Pendekatan Biopsikososiokultural Disabilitas dalam Konteks Kesehatan di Indonesia
Kata Kunci:
Disabilitas, Model Biopsikososiokultural, Pelayanan KesehatanAbstrak
Disabilitas adalah mencakup keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik. Penyebab disabilitas meliputi kondisi sejak lahir, penyakit kronis, dan cedera. Proporsi disabilitas di Indonesia adalah sebagai berikut, pada anak (usia 5-17 tahun) sebesar 3,3%, dewasa (usia 18-59 tahun) 22%, dan lansia dengan ketergantungan berat 1,02% serta ketergantungan total 1,58%. Tulisan ini menggunakan pendekatan biopsikososiokultural dalam konteks kesehatan bagi penyandang disabilitas di Indonesia. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur dari berbagai sumber, termasuk undang-undang, peraturan pemerintah, laporan penelitian, dan artikel jurnal. Hasil analisis menunjukkan bahwa data proporsi disabilitas di Indonesia berfluktuasi dari tahun 1978 hingga 2018, dengan metodologi dan indikator yang bervariasi. Dapat diidentifikasi bahwa disabilitas tidak hanya dilihat dari perspektif biologis, tetapi juga dari aspek psikologis, sosial, dan kultural. Secara biologis, disabilitas sebagai kondisi yang mengganggu fungsi normal seseorang. Secara psikologis, stigma dan perasaan rendah diri dapat mempengaruhi individu difabel. Dalam konteks sosial, aksesibilitas dan kesetaraan hak masih menjadi tantangan. Secara kultural, pandangan terhadap disabilitas beragam, dari mitos kosmologis Jawa hingga persepsi modern menganggap disabilitas sebagai ranah sosial. Model ini menekankan interaksi antara kondisi kesehatan dan faktor kontekstual, baik lingkungan maupun personal, dalam memahami disabilitas secara menyeluruh. Pendekatan biopsikososialkultural dapat digunakan sebagai kerangka kerja yang komprehensif untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bagi penyandang disabilitas di Indonesia.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2024 CASTLE Proceedings

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.

